Merapah Kisah Seluk Beluk Mulyosari
Synopsis
Babad desa Mulyosari mengarungi beberapa dekade yang cukup panjang. Penamaan desa yang akhirnya dikenal dengan sebutan Mulyosari melewati berbagai peristiwa yang melatarbelakangi hal tersebut. Dulunya wilayah ini tergolong gersang karena tidak tersedianya saluran air untuk mengairi lahan pertanian. Para warga hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi lahannya. Pada akhirnya saat penjajahan Belanda berlangsung, desa ini dipimpin oleh seorang Demang yang bernama Djojo Sentiko. Pemerintah Belanda tersebut membangun saluran irigasi yang diambil dari aliran sungai Song dengan cara diterowong. Tenaga kerjanya diambilkan dari warga setempat. Pembuatan saluran tersebut kurang lebih sepanjang 5 KM dan selesai pembuatan pada tahun 1918. Dengan terselesainya saluran irigasi tersebut warga setempat mampu mencetak lahan pertanian seluas 240 Ha. Akhirnya taraf hidup warga secara bertahap berangsur meningkat. Warga pun juga bisa hidup bahagia yang dalam bahasa jawa disebut Mulyo.
Dari hal tersebut digunakan untuk memberi nama desa tersebut menjadi Desa Mulyosari yang berasal dari kata mulyo yang berarti bahagia dan sari yang berarti inti. Jadi dengan nama Mulyosari tersebut berharap warganya bisa hidup bahagia dan menjadi inti dari hidup bahagia.Beriringan dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, budaya lokal menjadi kebiasaan yang tak dapat disisihkan. Banyak acara berdesa yang mengikutkan banyak budaya didalamnya, sehingga budaya desa berkembang dan lestari. Budaya di desa Mulyosari ini masih tergolong kental dan masyarakatnya pun masih menjaga serta melestarikannya hingga sekarang.
Adapun beberapa budaya yang sampai saat ini masih eksis di masyarakat Mulyosari yaitu seni jaranan, kesenian reog kendang, kesenian karawitan, kesenian tayupan, dan ruwatan wayang.Bangun dari kisah budaya, Desa Mulyosari membangun desanya sebagai desa wisata. Dilihat dari potensi yang ada, desa ini mampu bersaing dengan destinasi wisata diluar sana. Terdapat beberapa destinasi yang mungkin bisa melepat penat, seperti wisata alam Ranu Gumbolo, Kampung Pelangi, wisata Kuliner Agro Kahayangan, serta pecinta tanaman di Kampung Pelangi.