KEDUNGCANGKRING SADAR BUDAYA
Synopsis
Buku Desa Kedungcangkring Sadar Budaya ini merupakan buku yang disusun berdasarkan pandangan, pemikiran, dan juga hasil wawancara dari mahasiswa mahasiswi yang melakukan KKN di Desa Kedungcangkring. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk membantu pembaca yang ingin budaya yang mengetahui ada di Desa Kedungcangkring. Buku berjudul Desa Kedungcangkring Sadar Budaya ini dirancang untuk memenuhi tugas mahasiswa mahasiswi KKN yang diberikan oleh pihak LP2M. Buku ini juga mengupas berbagai hal mengenai tradisi, budaya, dan kearifan lokal yang ada di Desa Kedungcangkring. Tidak hanya itu buku ini juga menceritakan tentang profil desa, sejarah desa, dan juga sejarah persebaran islam di Desa Kedungcangkring ini. Secara umum, buku ini berbicara meengenai Desa Kedungcangkring itu sendiri. Istilah nama kedungcangkring terbagi menjadi dua kata yaitu “kedung” dan “cangkring”. Kedung merupakan suatu cekungan yang berada di tengah-tengah sungai. Sedangkan cangkring merupakan pohon besar yang di tumbuhi duri tajam akan tetapi tidak memiliki buah. Buku ini juga menjelaskan bahwa persebaran agama islam di desa kedungcangkring terjadi sangat pesat dengan mayoritas masyarakat menganut agama islam (NU). Dan untuk inti dari buku ini menjelaskan tentang tradisi, budaya dan kearifan lokal yang masih eksis dan masih banyak dilakukan oleh masyarakat Desa Kedungcangkring. Seperti tradisi tiban, tradisi ini juga diterapkan oleh masyarakat desa Kedungcangkring sebelum masa pandemi datang. Tradisi takir plontang, kegiatan takir plontang sendiri adalah kegiatan genduren atau syukuran yang dilakukan pada tanggal 1 Muharam atau 1 Suro. Tradisi bersih desa, tradisi bersih desa dilakukan setiap bulan suro. Tradisi megengan, merupakan tradisi warga desa Kedungcangkring dalam menyabut bulan suci Ramadhan. Tradisi yasinan, di Desa Kedungcangkring ini mempunyai dua rutinan yasinan yaitu rutinitas yasinan laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak lagi, seperti jaranan, karawitan, kajatan/hajatan, jedor (jedoran), dan hadroh. Sehingga dengan membaca buku yang ditulis oleh teman teman mahasiswa mahasiswi KKN UIN SATU ini para pembaca akan mengetahui apa saja tradisi dan budaya yang masih eksis dan masih banyak dilakukan oleh para masyarakat Desa Kedungcangkring.