Catatan Pengabdian: Senja di balik Bukti Dusun Tumpak Nongko

Authors

Lutfiana A dkk

Synopsis

Akhir-akhir ini aku suka larut memikirkan hal-hal aneh; lampu taman yang terang bak kunang-kunang di hutan hujan, tertawa cekikikan saat gerombolan katak bersahutan kala hujan, atau ucapan syukur sapi dan kambing sesaat sebelum dijagal di musim kurban.
Entah kenapa semua begitu mengasyikkan. Daripada memikirkan politik yang penuh intrik, lebih baik kubuang waktu ku menjadi Arjuna ataupun Bima di perang Bharatayudha, imajinasi yang lebih sopan dibanding memikirkan bumi itu bulat atau datar.
Pagi ke pagi ku habiskan 3 gelas kopi demi menjaga kewarasan, padahal dini hari adalah waktu yang aku hindari, diskusi rancu dengan diri sendiri, namun sialnya tetap ku ulangi. Kadang tertawa sendiri, kadang pula menangis tersedu-sedu, bukannya aku menghayati, hanya saja dipaksa menikmati.
“Hidup aneh ya kawan”, kata ego.
Siang dan malam kita mencari validasi, menuntut kesana kemari. Padahal jika lebih bersyukur lagi mungkin uang 10 ribu yang terselip di kantong lebih berharga ketimbang Wagyu A5 disaat kenyang.
Kini aku sadar kata-kata diatas hanyalah lamunan.
Aku sadar Idul Fitri telah usai, dan Idul Adha baru juga selesai.
Mungkin, jika Idul Fitri adalah hari kemenangan atas gemuruh doa-doa mereka yang kelaparan, bisa jadi Idul Adha adalah sebaik-baik ikhlasnya pengorbanan.
Aku berdo’a pada Tuhan dan ingin meminta Surga tapi langsung ku ingat syairnya Abu Nawas : “Meminta Surga pun aku tak pantas, tapi aku juga takut masuk Neraka” lantas aku menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba ada Surga yang bebisik :
“Carilah Tuhanmu, dan sebab kamu di ciptakan”
“Tak apa kau tersesat, daripada merasa paling Taat”
“Tetaplah mencari jalan pulang,
Hingga Tuhan memanggilmu untuk pulang”.

Cover for Catatan Pengabdian: Senja di balik Bukti Dusun Tumpak Nongko
Published
October 10, 2022