HIDUP DI DESA BUDAYA
Synopsis
Bagaimana rasanya tinggal di sebuah desa yang napasnya adalah budaya, di mana suara rebana
berpadu dengan tawa anak-anak bermain di tanah lapang, dan aroma kopi hangat menyambut
setiap tamu yang datang?
Inilah yang dialami para mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung saat menjalani KKN
Selingkar Kampus di Desa Ringinpitu. Selama lebih dari sebulan, mereka meninggalkan
kenyamanan kampus untuk hidup, belajar, dan mengabdi bersama masyarakat. Setiap hari
menghadirkan cerita baru: mengajar anak-anak di TPQ, mengajarkan ibu-ibu membuat bucket
bunga, membantu UMKM agar dikenal dunia lewat Google Maps, ikut posyandu, hingga terlibat
langsung dalam ritual jamasan pusaka yang sakral.
Melalui 30 lebih esai, buku ini mengajak pembaca masuk ke ruang-ruang kehidupan
desa-menyaksikan bagaimana nilai gotong royong, kearifan lokal, dan d tradisi
yang diwariskan
turun-temurun tetap hidup berdampingan dengan perubahan zaman. Di setiap halamannya, ada
tawa, keharuan, dan refleksi yang membuat kita sadar: pengabdian bukanlah datang membawa
solusi, melainkan hadir untuk tumbuh bersama.
"Hidup di Desa Budaya" bukan sekadar kisah KKN. la adalah undangan untuk melihat bahwa di
balik kesederhanaan, tersimpan kekuatan yang mampu membangun masa depan-dengan akar
budaya yang kokoh dan hati yang saling terhubung.