JEJAK JIWA DI BUMI KRESIKAN
Synopsis
Desa Kresikan, dulunya merupakan hutan lebat yang belum berpenghuni. Seiring waktu, datanglah para pendatang yang mayoritas berasal dari Desa Jati Banggi, Boyolangu yang kemudian menetap dan membuka lahan di kawasan ini. Nama "Kresikan" lahir dari kisah yang terjadi di bagian timur desa, tepatnya di Dusun Tumpak Kambil. Di sana tumbuh sebuah pohon Bendo yang daunnya, setiap kal gugur, tidak bersisa di tanah selalu bersih, atau dalam bahasa Jawa disebut resik. Dari kata itulah muncul nama "Resikan" yang lambat laun berubah pelafalannya menjadi "Kresikan".
"Jejak Jiwa di Bumi Kresikan" adalah antologi esai yang merekam perjalanan 40 hari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dalam buku ini pembaca akan menemukan narasi- narasi penuh kehangatan, canda, kerja sama dan refleksi dari 32 penulis muda yang mengabdikan dirinya di tengah kehidupan masyarakat desa. Setiap tulisan adalah potret kecil dari ikatan yang dibangun bersama warga, mulai dari rumah belajar, pendampingan posyandu, pelatihan UMKM, hingga tahlilan dan tradisi lokal yang sarat makna.
Lebih dari sekadar laporan kegiatan, buku ini adalah kumpulan jwa yang menuliskan dirinya di tanah orang lain, dan menemukan pulang di tempat yang tidak pernah mereka sangka, Sebuah kisah lintas batas antara akademik dan kemanusiaan, antara pengabdian dan pertumbuhan, antara datang dan akhirnya berat untuk pulang. Kresikan bukan sekadar tempat, melainkan pengalaman hidup yang akan terus hidup di dalam hati para pengabdi muda.